Sebagai muslim kita bersaudara. maka marilah kita perkuat ukhuwah islamiyah tanpa melihat golongan apapun kita dari suku manakah kita, tapi bersatulah karena Allah SWT.

Monday, December 29, 2008

"SELAMAT TAHUN BARU"

Setiap hari yang kita jalani tak terlepas dari perbuatan baik ataupun buruk. Setiap waktu kita menjalaninya, menambah amal, menambah dosa jika kita bermaksiat, menyenangkan orang lain atau menyakiti orang lain. Tak terasa tahun demi tahun berlalu, tapi terkadang kita tak dapat mengukur dengan akurat dan jelas apakah kita mengalami perbaikan diri atau penurunan.Tanpa ada data yang dapat dilihat dan diukur, kita hanya bisa menerka, insya Allah saya lebih baik dari tahun kemarin atau saya mengalami penurunan ibadah dari tahun kemarin.Alangkah baiknya jika kita memiliki semacam lembar evaluasi diri yang dibuat seperti buku harian, tapi bukan hanya menceritakan hal-hal yang membahagiakan dan menyedihkan saja, kita bisa mengisi buku harian itu dengan rentetan peristiwa yang telah kita lalui pada hari itu terutama yang berhubungan dengan orang lain.

SELAMAT TAHUN BARU 1430 HIJRIYAH
&
SELAMAT TAHUN BARU 2009

Untuk itulah kita sangat memerlukan lembar evaluasi diri ini, agar kita selalu bisa mengontrol gerak-gerik kita, mencatatnya dan yang paling penting menjadi bahan perenungan dan muhasabah. Entah berapa lembar halaman atau berapa banyak buku yang bisa menampung semua itu karena kita pun tak pernah tau sampai kapan penulisan akan catatan amal/dosa kita akan berakhir. Saat tak ada kesempatan berbuat baik dan jahat, saat roh sudah terpisah dengan jasad.

Semoga di tahun yang baru ini kita diberikan kemudahan dan keistiqomahan
dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita.


Jazaakumullooh khoiron katsiiroo 'ala kulli haal




Selengkapnya...

Friday, December 26, 2008

Pemuda-jalanan-meninggal-dalam-sujud

Seperti biasa, usai shalat maghrib beberapa pemuda berkumpul di dalam mesjid. Mereka membicarakan tentang nikmat-nikmat Allah Swt., tentang tujuan hidup, tentang bekal mati dan tentang perjuangan untuk tegaknya agama Allah Swt. di muka bumi ini. Bagi mereka rutinitas ini adalah seperti makanan yang dibutuhkan seorang musafir ketika melintasi padang sahara yang luas. Atau ibarat obat bagi orang yang sedang sakit atau ibarat suplemen tambahan untuk menjaga stamina tubuh. Mereka terlihat masih muda dengan semangat membara yang masih mengisi ruang jiwa mereka. Namun wajah mereka mengesankan bahwa mereka sedang memikirkan suatu perkara yang berat, ya..., mereka sedang memikirkan bagaimana hidayah Islam ini sampai ke seantero dunia, sehingga tidak ada satupun manusia yang meninggalkan dunia ini kecuali ia dalam keadaan beriman.

Mereka adalah pemuda yang tangguh, sabar dan kuat keyakinan pada Allah Swt.. Akhlak mereka patut dipuji, kata-kata mereka selalu menyentuh hati dan sikap mereka mencontoh akhlaknya Nabi. Setelah lebih kurang seperempat jam, mereka mulai menentukan beberapa orang untuk keluar berkunjung kerumah-rumah kaum muslimin.

Salah seorang dari mereka berkata, "Di persimpangan jalan ke arah halte, ada seorang pemuda yang suka mengganggu dan menertawakan kita setiap kali kita lewat ditempat itu. Ini sudah terjadi 2 kali. Setiap kali lewat, kita tidak menghiraukan sikap dan kata-katanya. Bagaimana kalau kesempatan kali ini, kita coba dekati ia, kita bicara padanya dengan baik-baik, lembut dan sopan dan sedapat mungkin kita ajak ia ke Mesjid." "Usulan yang bagus," salah seorang dari mereka menanggapi.

"Kita mohon pada Allah Swt. agar membuka hati pemuda tersebut untuk mau mendengarkan kata-kata kita," ia melanjutkan. "Baiklah, sebelum keluar mari kita berdo`a pada Allah Swt. dengan penuh tadharru` dan berharap, moga Allah Swt. menjadikan setiap langkah kita kebaikan dan sebab diberinya orang lain hidayah," semuanyapun mengamini. Mereka keluar dari mesjid dan lidah mereka tak henti menyebut asma Allah Swt.. Hati mereka penuh dengan harapan agar Allah Swt. membukakan hati pemuda tersebut untuk mau mendengarkan kata-kata mereka kali ini. Dan seperti biasa, pemuda jalanan itu lagi nongkrong ditempat tersebut.

Sebelum salah seorang dari mereka yang keluar mulai menegur, pemuda jalanan itu sudah mulai menertawakan dan mencemooh. Ia berani karena bersamanya pemuda-pemuda yang lain. Salah seorang dari mereka yang keluar dari mesjid, mulai mendekati si pemuda, ia duduk disampingnya dan yang lain sibuk dengan do`a didalam hati dan lidah mereka tak hentinya melantunkan zikir pada Allah Swt., beristighfar dan bershalawat pada Rasulullah Saw.

Akhirnya si pemuda bersedia diajak ke mesjid walau pada awalnya ia agak keberatan. Tapi karena Allah Swt. jualah dan juga kepiawaian berbicara salah seorang dari mereka yang keluar dari mesjid, hati pemuda itupun tersentuh juga. Dalam perjalanan ke mesjid si pemuda meminta ma`af atas sikapnya selama ini. Ia menyesal dengan tindakannya yang tidak baik tersebut.

Sesampai di mesjid, si pemuda disuruh untuk berwudhuk dahulu, tapi ia masih berdiri dan tidak beranjak menuju ke tempat wudhuk. Ia berkata, "Saya sudah lupa cara berwudhuk, tolong ajarkan saya caranya." Kemudian salah seorang dari mereka mengajarkan pemuda tadi berwudhuk.
Usai berwudhuk ia disuruh shalat, tapi ia kembali berkata, "Ma`af saya sudah lama tidak shalat, sehingga saya sekarang tidak tahu bagaimana gerakannya dan apa saja bacaannya." Kemudian salah seorang dari mereka memimpin shalat untuk mengajarkan tata cara dan bacaan shalat.

Pada saat sujud terakhir, si pemuda belum bangun dari sujudnya, dugaan yang mengajarkan shalat bahwa ia sedang berdo`a panjang menyesali perbuatan dan dosanya selama ini. Setelah mengucapkan salam, si pemuda belum juga bangun, dan ketika digerak-gerikkan badannya, ternyata ia telah meninggal dunia. * * * Apa ibrah yang bisa kita ambil dari kisah diatas? Betapa kematian datang dengan tiba-tiba. Tanpa ada satupun yang bisa menduga dan mengetahuinya.

Dan betapa dakwah itu dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka. Dan kalaulah pemuda–pemuda soleh tadi tidak mendatangi si pemuda jalanan dan pemuda jalanan itu dalam ketentuan taqdirnya meninggal pada saat itu, tentu meninggalnya dalam keadaan yang tidak diridhai Allah Swt.. Namun, Allah Swt. telah menjadikan mereka sebab si pemuda jalanan meninggal dalam keadaan sedang bersujud. Silahkan Anda memikirkan ibrah dari kisah diatas...! Semoga bermanfaat.

Wassalam Kisah seorang teman dari Mesir Arif Salman




Selengkapnya...

Tuesday, December 2, 2008

Derita Sakaratul Maut Karena Mengutamakan Isteri Lebih Dari Ibunya

Di zaman Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Alqomah, ia sangat rajin beribadat. Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit yang sangat kuat, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah dan mengatakan suaminya sakit kuat dan dalam sakaratul maut. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Alqomah. Ketika mereka sampai ke rumah Alqomah, mereka terus mendapatkan Alqomah sambil membantunya membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Alqomah tidak dapat menyebutnya.
Ketika para sahabat mendapati bahwa Alqomah pasti akan mati, maka mereka menyuruh Bilal r.a supaya memberitahu Rasulullah tentang keadaan Alqomah. Ketika Bilal sampai dirumah Rasulullah, maka bilal menceritakan segala hal yang berlaku kepada Alqomah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Bilal; "Wahai Bilal apakah ayah Alqomah masih hidup?" jawab Bilal r.a, " Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya". Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal; "Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang berjumpaku, kalau dia tidak dapat berjalan katakan aku akan kerumahnya".Maka ketika Bilal sampai kerumah ibu Alqomah, lalu ia berkata seperti yang Rasulullah kata kepadanya, maka berkata ibu Alqomah; " Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah". Lalu ibu Alqomah mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah.
Maka bertanya Nabi s.a.w. kepada ibu Alqomah; "Terangkan kepada ku perkara yang sebenar tentang Alqomah, jika kamu berdusta nescaya akan turun wahyu kepadaku". Berkata Nabi lagi; "Bagaimana keadaan Alqomah?", jawab ibunya; "Ia sangat rajin beribadat, ia sembahyang, berpuasa dan sangat suka bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya". Bertanya Rasulullah; "Bagaimana hubungan kamu dengan dia?", jawab ibunya; " Aku murka kepadanya", lalu Rasulullah bertanya; "Mengapa", jawab ibunya; "Kerana ia mengutamakan istrinya dari aku, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku".Maka berkata Rasulullah; "Murka kamu itulah yang telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah", kemudian Nabi s.a.w menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah.
Ketika ibu Alqomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; "Wahai Rasulullah, kamu hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat menerimanya". Kemudian berkata Nabi s.a.w; "Wahai ibu Alqomah, siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya", demi Allah yang jiwaku ditangannya, tidak akan guna sembahyangnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya". Maka berkata ibu Alqomah sambil mengangkat kedua tangannya; "Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahawa aku redha pada anakku Alqomah".Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Alqomah sambil berkata; "Pergilah kamu wahai Bilal, lihat sama ada Alqomah dapat mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak". Berkata Rasulullah lagi kepada Bilal ; "Aku khuatir kalau kalau ibu Alqomah mengucapkan itu semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya". Maka ketika Bilal sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah menyebut; "La iilaa ha illallah". Lalu Bilal masuk sambil berkata; "Wahai semua orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalangi Alqomah dari dapat mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana redha ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalimah syahadat". Maka matilah Alqomah pada waktu setelah dia mengucap.
Maka Rasulullah s.a.w pun sampai di rumah Alqomah sambil berkata; "Segeralah mandi dan kafankan", lalu disembahyangkan oleh Nabi s.a.w. dan sesudah dikuburkan maka berkata Nabi s.a.w. sambil berdiri dekat kubur; "Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh Allah s.w.t, dan tidak diterimanya daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.



Selengkapnya...

Monday, November 10, 2008

Apa Pikir Kita Sebagai Muslim?

Kita yang terjun dalam usaha da’wah selalu diajak untuk pikir dan pikir, artinya kita diajak untuk menghindari kerja da’wah yang dilakukan dengan adat kebiasaan saja. Pikir merupakan salah satu anugrah dari Allah swt yang sangat penting bagi setiap insan untuk melakukan perubahan, termasuk juga dengan kita kaum muslimin. Generasi salafush sholeh para Shahabat RA telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita tentang perkara pikir ini dengan baik. Begitupun dengan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, kita kaum muslimin yang berada di jaman yang sangat lemah posisinya sepantasnya dalam diri kita kaum muslimin mempunyai pikir-pikir utama, sehingga pikir ini menjadi landasan kepada kita untuk mencapai apa yang menjadi keinginan kita di masa depan. Pikir sebagai anugrah Allah swt ini tidak hanya untuk urusan dunia semata, tetapi juga juga pikir untuk urusan agama kita sendiri. Islam tidak menghalangi pikir kita untuk perkara urusan dunia, tetapi juga Islam juga tidak mengajari pikir hanya untuk urusan dunia semata.

Seandainya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau tidak mau kembali ketika beliau dialog dengan Allah swt langsung saat Isro Mi’raj. Begitupun juga, seandainya para Shahabat RA hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau-beliau ini tidak akan bersusah payah untuk menyebarkan Islam dan meninggalkan kampung halamannya. Kisah Musyaib Bin Umair RA, seorang pemuda tampan dan terpandang, berani meninggalkan kehidupannya untuk menyampaikan da’wah di Yastrib (belum jadi Madinah Munawarah saat itu), padahal beliau tidak mempunyai sanak saudara di kota tersebut.

Marilah kita belajar dari pikir ini, dan kita gunakan pikir untuk kebaikan kaum muslimin di berbagai lapisan masyarakat, berbagai lapangan kehidupan; kita tidak membedakan apakah itu tua atau muda, apakah itu ustadz atau pelajar, apakah itu pedagang atau dokter, apakah itu insinyur atau guru, apakah itu kaya atau miskin; semuanya perlu kembangkan pikir untuk keselamatan dunia dan akherat kita.
Insya Allah, kami akan berbagi dengan pikir-pikir ini lebih lengkap berlandaskan pada sumber-sumber Al-quran dan As-Sunnah, yang sebenarnya banyak mengajarkan terhadap pikir-pikir ini.

Pikir Diri dan Keluarga
Pikir diri dan keluarga merupakan pikir yang sangat mendasar bagi kita semua kaum muslimin, sehingga selalu berusaha keras untuk dapat mengikuti perintah Allah swt dan juga sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya, begitupun juga berusaha menjauhi apa-apa yang dilarangnya oleh Allah swt dan juga Rasulullah SAW. Taqwa merupakan bukti kita sendiri sebagai muslim yang mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya. Pikir atas diri dan keluarga yang seharusnya kita jaga dengan baik.


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajarkan kepada kita ummat Islam untuk selalu beristighfar, dan juga sholat malam. Hal ini agar kita selalu memperhatikan terhadap diri kita sendiri, bahwa kita ini tidak lepas dari kesalahan tetapi kita perlu kembali lagi kepada alur-alur Islam itu. Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat di waktu masih kecil, begitupun juga menyuruh keluarga kita untuk menjaga sholat.

Hal ini sebagai bentuk agar pikir diri dan keluarga melekat pada kita sendiri. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari para Shahabat RA dan juga kita sendiri untuk lebih bersungguh-sungguh dengan diri kita sendiri seperti dalam pelajaran do’a beliau di bawah ini.
“Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kebakhilan dan berusia lanjut yang tidak kuat. Dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah ketika hidup dan mati” (HR - Bukhari-Muslim)

Do’a di atas sangat mengajarkan kepada kita terhadap perkara-perkara yang dapat menjadikan kita lalai terhadap diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu sungguh-sungguh dengan perkara-perkara di atas agar tidak melekat dalam diri kita dan juga keluarga kita.

Dan kisah Umar Bin Abdul Aziz RA ketika masih kecil, menangis di waktu malam setelah sholat, ditanya oleh ibunya kenapa menangis, dijawabnya siapa yang dapat menjaga keselamatan saya di waktu persidangan akherat. Allah swt menjelaskan dengan tegas untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari Api Neraka. Dan juga kita diajarkan untuk selalu berdo’a agar dijadikan sebagai keluarga yang tetap istiqomah dengan amalan sholat. Harapan dan cemas telah menjadi pendorong kepada generasi itu selalu memikirkan diri dan keluarga, sejauh mana ketaatanya kepada Allah swt dalam kehidupannya dan mengikuti perintah Rasulullah SAW.


Pikir Silaturahmi
Pikir silaturahmi menjadi landasan untuk menjaga kebersamaan antara kaum muslimin. Generasi para Shahabat RA paham betul bahwa ketidakharmonisan akan membawa bencana yang berkepanjangan. Rasulullah menampakan kemarahannya ketika mengetahui terjadi perdebatan dua orang dalam satu ayat, dan beliau menjelaskan bahwa hal ini yang menjadikan ummat dahulu mengalami kehancuran.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah SAW sangat mengingatkan untuk menghormati yang tua dan ulama jika memang benar-benar beriman kepada Allah swt dan akherat.

“Dari ‘Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersadba: “Bukan dari golongan ummatku orang tidak menghormati orang yang telah tua, tidak menyayangi anak muda, dan tidak mengetahui haknya orang ‘alim kami (tidak memuliakan ulama)” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-kabiir, dan isnadnya hasan - Majma’uz Zawaa’id I/338) [1]

Dan juga untuk menjaga silaturahmi ini, Rasulullah SAW memberikan contoh-contoh untuk selalu memuliakan saudaranya sendiri. Bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh berkhidmat kepada seorang muslim yang berkeinginan mendapatkan pekerjaan, seperti berusaha dengan kayu bakar. Generasi tersebut akan selalu menjaga ucapan agar tidak menghancurkan kebersamaan, bahkan kesalahan orang lain yang telah dibuatnya tidak diingat kembali.

Generasi Shahabat RA Aus dan Khazraj hampir terjadi pertumpahan darah yang sangat luar biasa, hal ini dikarenakan hembusan dari pihak ketiga dan juga satu sama lain melupakan tanggung jawabnya untuk saling mengingatkan dan menjaga kebersamaan. Oleh karena itu, Allah swt menjelaskan dengan baik sekali dengan kejadian ini dalam QS 3:100-105, dan kita dapat pelajarinya dengan baik tentang hal ini melalui kitab-kitab tafsir besar, seperti Ibnu katsir. Dan ini seharusnya menjadi perhatian serius dalam diri kita, karena saat ini kebersamaan kaum muslimin sangat lemah.

Pikir Da’wah
Pikir Da’wah sudah menjadi pikiran generasi Shahabat RA tersebut, yang baru masuk Islam, yang sudah paham, atau pemuda. Semuanya aktif dalam kerja da’wah. Dan da’wah tidak dibatasi hanya berdasarkan pada ucapan saja, tetapi kadangkala dengan perbuatan. Allah swt menegaskannya dengan tegas kerja ini, agar Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan juga hal ini kepada ummatnya.


“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf (12): 108)

Kisahnya masuk Islam seorang Yahudi di depan Rasulullah SAW, dikarenakan kerendahan hati Rasulullah SAW ketika orang yahudi ini meminta bayaran hutang. Rasulullah SAW sangat bersedih hati jika banyak masyarakat menolak da’wahnya, bagaimana kesedihan Rasulullah SAW ketika berda’wah ke thoif. Meskipun disepelekan, tetapi Rasulullah SAW berharap di masa depan ada yang beriman kepada Allah swt. Kita dapat perhatikan dari ucapan atau do’a Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, ketika di thaif.

Bagaimana pikir Abu Bakar RA untuk mengajak kembali teman-temannya yang lain untuk masuk Islam, setelah masuk Islam, langsung besoknya melakukan da’wah mengajak yang masuk Islam. Bagaiman dengan Abu Dzar RA, sungguh-sungguh da’wah di lingkungan kaumnya. Bagaimana dengan seorang pemuda tampan, Musaib bin Umair berda’wah di Madinah. Kerisauan terhadap keselamatan masyarakat dan keluarga itu, generasi salaf sungguh-sungguh berda’wah. Mereka menyebarkan Islam ke seantero negeri untuk menyampaikan Risalah da’wah ini.

Pikir Rahmatan Lil ‘Alamin
Pikir kita bagaimana menjadikan Islam sebagai rahmat di seluruh alam. Pikir yang mana kita selalu berpikir agar Allah swt memberikan hidayah dan taufiqNya ke seluruh alam. Allah swt menjelaskan peran Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Pikir yang menyeluruh telah dijadikan sandaran oleh generasi para Shahabat RA. Dan Rasulullah SAW selalu memberikan dorongan untuk itu. Sehingga kaum muslimin saat itu berlomba-lomba untuk menyebarkan Islam ke negara-negara yang lebih jauh. Mereka berani berkorban segala-galanya. Sehingga tidak heran jika Islam tumbuh di daerah Parsi. Atau juga Islam telah masuk ke daerah Eropa.

Dengan kerisauan dan pikir yang mendalam itu generasi para Shahabat RA telah banyak berkorban untuk menyerbarkan Islam di seluruh Alam. Dan sampai sekarang banyak peninggalan yang sangat bersejarah, dan salah satu bukti yang sangat kongrit adalah Islam telah sampai di Indonesia. Pikir yang dalam telah merubah mereka menjadi kaum yang terbaik dalam perjalanan sejarah, dan mereka telah memberikan catatan-catatan sejarah yang sangat berharga bagi peradaban manusia. Imam Bukhari Rah sebagai ahli hadits bukan berasal tataran Arab, hal ini menjadi bukti yang sangat jelas bahwa Islam telah masuk ke tataran di sekitar kel
Itulah pikir yang mesti dikembangkan ke dalam diri kita. Dan generasi para Shahabat RA telah mempunyai pikir yang sangat dalam terhadap pikir-pikir di atas, sehingga kita perlu banyak belajar bagaimana meningkatkan pikir-pikir sebagaimana generasi itu. Pikir-pikir ini akan memberikan dorongan kepada kita untuk lebih berkeja dan berusaha dalam amal agama.


Jazaakumullooh khoiron katsiiroo 'ala kulli haal


Selengkapnya...

Tuesday, October 28, 2008

Kenalilah dan Ikutilah Rasulullah SAW

Kita sebagai kaum muslimin mempunyai kewajiban dengan ajaran Islam yang dipegangnya, salah satunya adalah mengenal dan mengikuti Rasulullah SAW dalam kehidupan kaum muslimin. Kita tidak mungkin dapat mengetahui dan mengikuti pengajaran-pengajaran Islam, kecuali kita sendiri mengetahui dan mengikuti Rasulullah SAW. Beliau ini sebagai utusan Allah swt untuk mengajarkan Al-Islam kepada seluruh manusia, dan beliau juga sebagai Nabi terakhir di muka bumi ini.
Untuk dapat mengajarkan Al-Islam kepada manusia, beliau banyak memberikan pengorbanan yang tidak sedikit, harta, pikiran dan juga bahkan jiwa beliau bisa teracam. Beliau perlu mengunjungi rumah-rumah yang ada di sekitar beliau, Beliau juga perlu mengunjungi orang-orang yang sedang berkumpul, bahkan Beliau perlu meninggalkan rumah beliau untuk mengunjungi daerah yang cukup jauh. Kisah beliau ketika pergi ke Thaif menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, kaum muslimin. Kadangkala beliau menerima olokan, tekanan, teror, bahkan lemparan kotoran unta dan sebutan sebagai orang gila, tetapi beliau terus melakukan pengajaran kepada manusia.
Sarana dan prasarana yang sangat minim tidak menjadi halangan bagi Beliau untuk terus melakukan pengajaran dan juga ajakan kepada Al-Islam. Di jaman itu tidak ada sarana komunikasi seperti sekarang ini, apakah itu radio, apakah itu internet, apakah itu TV. Tetapi beliau tidak pernah menyerah untuk selalu berkunjung dan mengajak manusia agar beriman dan beribadah kepada Allah swt. Dan beliau tidak segan-segan untuk mendo’akan manusia untuk dapat mengikuti Al-Islam ini, meskipun di antara mereka menghina dan mencemoohkannya. Bagaimana beliau mendo’akan Ummar RA sebelum masuk Islam.
Dalam bab ini, marilah kita sama-sama untuk mengenali beberapa hal yang berhubungan Rasulullah SAW. Allah swt menjelaskan tentang beliau dan juga sangat menekankan untuk mengikutinya dalam kehidupan di dunia ini. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan Ibadah secara khusus, tetapi beliau mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan yang lainnya, seperti bagaimana menjadi pemimpin yang adil, bagaimana membina keluarga yang sholehah, bagaimana berhubungan suami dan istri, bagaimana akhlaq seorang anak, bagaimana menjadi seorang guru, bagaimana dengan hal jual-beli, juga hutang-piutang, dan yang lainnya. Sehingga Rasulullah SAW sendiri merupakan perwujudan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh mengajar para Shahabat RA, dan menanamkan tanggung jawab yang sama kepada generasi itu untuk mengajarkannya kepada manusia lainnya yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah SAW, dan hal inipun terus berlanjut sampai sekarang.
Kenalilah Rasulullah SAW
Allah swt menjelaskan beberapa hal yang berhubungan dengan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dalam ayat-ayat al-quran dengan jelas.
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108)
Ayat di atas menjelaskan dengan tegas tugas Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang da’i untuk mengajak manusia kepada jalan Islam dengan penjelasan-penjelasan yang jelas. Untuk hal ini Allah swt membimbingnya langsung dengan firman-firmanNya dalam ayat Al-quran.
“Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya” (QS Al-An’aam: 92)
Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, tidak hanya untuk melakukan da’wah di daerah Mekah, tetapi juga disekitarnya. Begitulah aktifitas beliau dilakukan, sehingga untuk kerja da’wah ini beliau mencurahkan tenaga, pikiran dan hartanya agar agama ini dapat diterima oleh manusia dari waktu ke waktu. Dan peran ini juga diambil oleh para Shahabat RA, sehingga banyak kisah menjelaskan tentang hal itu. Bagaimana kisah Abu Dzar RA mengajarkan Islam ketika pulang kampungnya sendiri, sehingga kaumnya memeluk Islam. Bagaimana kisah Abu Bakar RA setelah masuk Islam, maka beliau langsung esok harinya mengajak sekitar lima orang untuk memeluk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Begitupun juga dengan Ummar RA setelah masuk Islam, beliau langsung mendatangi Abu Jahal untuk menjelaskan bahwa dia sekarang seorang muslim dan juga da’i.
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmi” (QS At-Taubah:128)
Rasulullah SAW sangat bersedih hati jika manusia tidak beriman dan taat kepada Allah swt. Allah swt menjelaskan dengan sangat jelas tentang beliau. Oleh karena itu, jika kita sering membaca kisah-kisah Rasulullah SAW, kita akan menemukan bagaimana sikap-sikap Rasulullah SAW ketika mengajak manusia untuk memeluk Islam. Rasulullah SAW ketika beliau akan meninggalkan kehidupan yang fana ini, beliau selalu mengingat ummatnya, dan ucapan-ucapan ini diulang berkali-kali. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kerisauan beliau yang sangat dalam terhadap ummatnya dan juga ummat manusia.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiyaa: 107)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba’: 28)
Allah swt menjelaskan bahwa Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, bukan untuk satu generasi yaitu generasi para Shahabat RA, bukan untuk satu kaum yaitu kaum quraisy, bukan untuk satu bangsa yaitu bangsa arab atau bukan untuk satu jaman; tetapi beliau untuk seluruh generasi, seluruh kaum, seluruh bangsa dan juga seluruh jaman sampai hari kiamat nanti. Oleh karena itu, ketika haji wada Rasulullah SAW mengajarkan kepada para Shahabat RA untuk menyampaikan risalah ini kepada siapapun yang tidak hadir pada saat itu, artinya Al-Islam mesti disebarkan ke mana-mana tempat di dunia ini agar rahmat Allah swt dapat disebarkan dengan merata. Tetapi kebanyakan manusia tidak memahami hal ini, bahkan sebagian besar kaum muslimin sendiripun saat ini tidak menyadari dengan hal ini.
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci” (QS Ash-Shaff: 9)
Rasulullah SAW mempunyai peran untuk membawa petunjuk atau ajaran yang haq kepada manusia, meskipun manusia itu sendiri tidak menyukainya. Sehingga tidak heran pada saat Rasulullah SAW menyampaikan risalah ini banyak sekali ejekan, olokan, bahkan teror dan lemparan batu atau kotoran unta. Sehingga ajaran Islam ini akan menjadi tegak di muka bumi dan memimpin peradaban manusia itu sendiri. Dalam hal ini jelas sekali akan menimbulkan ketidaksukaan-ketidaksukaan dari orang-orang yang musyrik atau orang-orang yang mempunyai pandangan yang tidak bersesuaian dengan ajaran Islam itu sendiri.
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (Al-Baqarah: 151)
Setelah Rasulullah SAW mengajak manusia untuk masuk ke dalam Islam, maka peran Rasulullah SAW adalah mengajar, mendidik dan membimbingnya dengan baik. Untuk hal ini, Rasulullah SAW tidak hanya mengajar ketika di masjid saja, tetapi di mana-mana tempat yang dapat memberikan pengajaran dan pendidikan Islam. Rasulullah SAW memberikan contoh ketika membangun masjid yang pertama di Madinah, yang mana Rasulullah SAW bersama-sama dengan para shahabat membangunnya. Rasulullah SAW kadangkala mengajarkannya ketika dalam keadaan panas terik, dan para Shahabat RA berdiri, dalam hal ini Rasulullah SAW berkeinginan mengajarkan bahwa padang mahsyar sangat-sangat susah jika tidak taat kepada Allah swt. Rasulullah SAW memberikan permisalan kaum muslimin yang sering mengunjing saudaranya ketika di pasar.
Rasulullah SAWpun memberikan pengajaran ketika dalam pertempuran, misalnya dalam perang badar, dimana Rasulullah SAW berdo’a kepada Allah swt dengan sangat sungguh-sungguh dan penuh dengan derai air mata. Rasulullash SAW mengajar shahabat RA ketika dimarahi oleh orang Yahudi, misalkan kepada Ummar RA. Dan juga beliau mengajarkan bagaimana untuk mensucikan diri untuk lebih banyak berdzikir setelah pagi dan petang. Disinilah peran Rasulullah SAW mengajar, mendidik, dan membimbing, tidak hanya dalam ucapan saja tetapi dalam bentuk kehidupan keseharian, sebagai guru, sebagai suami, sebagai pemimpin, seorang orang sederhana. Sehingga Islam menjadi mudah untuk diamalkan saat itu. Padahal sarana dan prasarana pengajaran, pendidikan dan bimbingan sangat minim, berbeda dengan kita kaum muslimin saat ini, tetapi Islam dapat diwujudkan dengan mudah dan indah. Seperti apa yang dijelaskan oleh Allah swt sendiri dalam surat Ibrahim.
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS Ibrahim: 24-25)
Masih banyak lagi Allah swt menjelaskan dan menegaskan tentang Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dalam ayat-ayat Al-quran. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan jika disampaikan nama dari Nabi kita, tidak menyampaikan sholawatnya, maka kita dianggap sebagai manusia yang kikir. Dan yang lebih penting lagi adalah kita berusaha untuk mengikuti beliau dalam kehidupan kita sebagai muslim.
Ikutilah Rasulullah SAW
Kita sebagai kaum muslimin sangat ditekankan untuk mengikuti dan mencotohi Rasulullah SAW, dan hal ini juga telah dibuktikan oleh generasi para Shahabat RA sehingga kejayaan di dunia dan akherat dapat diperolehnya. Begitupun bagi kita, jika kita berkeinginan mencapai kesuksesan dunia dan akherat, yang mana sering kita menyampaikan do’anya kepada Allah swt, maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kita sendiri berusaha mengikutinya dengan baik.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21)
Bagi kita yang sangat berkeinginan dengan rahmat Allah swt dan balasannya di akherat nanti, tidak ada pilihan kecuali kita sendiri mengikuti Rasulullah SAW. Dalam diri Rasulullah SAW terdapat suri tauladan bagi kita dalam segala hal, ilmunya, hikmahnya, akhlaqnya, kepemimpinannya, kesedehanaannya, kedermawanannya, kesungguhannya, pengorbanannya, ketelitiannya, kehati-hatiannya, ketaqwaannya, keikhlasannya, ibadahnya, dzikirnya, kesehariannya, dsb. Oleh karena itu kita dituntut untuk selalu mempelajari dan juga mendalami tentang sunnah-sunnah beliau.
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imran: 31)
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS An-Nisaa’: 80)
Allat swt menjelaskan jika kita benar-benar beriman kepadaNya dan segala-gala hanya untukNya, maka kita sebagai muslim harus mengikuti Rasulullah SAW sebagai Nabi terakhir yang ditugaskan untuk mengajarkan Islam sebagai agamaNya. Begitupun sebaliknya, jika kita mentaati Rasulullah SAW maka hal itu menunjukkan bahwa kita mentaati Allah swt.
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS An-Nisaa’: 69)
Kita selalu meminta kepada Allah swt dalam sholat kita untuk tidak dimasukkan ke dalam golongan yang dimurkai dan juga yang sesat, tetapi meminta agar dimasukkan ke dalam golongan yang diberi nikmat oleh Allah swt. Ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW akan mengarahkan kita untuk bersama-sama dengan golongan yang diberi nikmat itu adalah para Nabi, para shadiqin, para syuhada, dan juga orang-orang sholeh. Oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti Rasulullah SAW dalam kehidupan kita. Para ulama setelah generasi para Shahabat RA telah aktif mencatatkan tentang Rasulullah SAW ini ke dalam kitab-kitabnya, dan kitab-kitab ini telah menjadi sumber yang sangat berharga, seperti susunan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Syafi’i, Imam Malik dsb.
Rasulullah menjelaskan dengan tegas kepentingan untuk mengikuti sunnahnya. Dan hal ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab yang disusun ulama.
“Dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW berkata: setiap ummatku masuk surga kecuali yang enggan. Ditanya: siapa orang yang enggan? Berkata Rasulullah: barangsiapa yang taat kepada ku, masuk surga, dan barangsiapa yang melanggarku, sungguh-sungguh orang yang enggan” (HR Imam Bukhari, Kitab Miskatul Mashobih Jilid 1 no. 143)
“Dari Anas bin Malik berkata bahwasanya Rasulullah SAW berkata: telah kutinggalkan dua perkara di lingkungan kamu yang mana kamu tidak akan tersesat jika kamu memegangnya, yaitu Kitabullah dan Sunnah RasulNya” (Diriwiyatkan di Al-Muwatho, Kitab Miskatul Mashobih Jilid 1 no. 186).
Masih banyak lagi penjelasan dalam al-quran dan juga kitab-kitab hadist untuk mengikuti Rasulullah SAW. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama untuk mempelajari dan juga mendalami sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan mewujudkannya dalam kehidupan kita sebagai muslim, dan kita juga perlu mengajarkannya dan mendakwahkannya kepada kaum muslimin yang lainnya untuk lebih belajar dan mengamalkan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Jazaakumullooh khoiron katsiiroo 'ala kulli haal






Selengkapnya...