Sebagai muslim kita bersaudara. maka marilah kita perkuat ukhuwah islamiyah tanpa melihat golongan apapun kita dari suku manakah kita, tapi bersatulah karena Allah SWT.

Saturday, June 26, 2010

Menangis Pelajaran Penting Dalam Islam

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda,” Ada tujuh golongan manusia yang akan dilindungi oleh Allah di bawah rahmat-Nya pada hari di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah, yaitu :

1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang menggunakan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah
3. Laki-laki yang hatinya selalu terpaut kepada masjid
4. Dua orang laki-laki yang salinh mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah karena Allah
5. Laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan dan jelita, ia berkata,;Aku takut kepada Allah
6. Lelaki yang memberi sedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak Mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
7. Lelaki yang mengingat Allah dalam keadaan bersunyi diri sehingga berlinangan air matanya(Hr. Bukhari dan Muslim)


Entah mengapa saya teringat kembali dengan perkataan salah satu penanggung jawab pelajar di Bandung beliau adalah Dosen di ITB namanya pak Iqbal. Nasehat ini beliau berikan ketika selesai pembacaan hayatus sahabat di malam Markaze Bandung yang sudah lama berlalu.
Beliau katakan bahwa Menangis merupakan salah satu pelajaran terpenting dalam islam, maka bagi diri kita semua luangkan waktu untuk menangis, kalau belum bisa belajar mulai dari sekarang, kalau belum bisa juga maka pura-puralah menangis.

Itulah nasehat yang ringkas namun sangat berkesan dalam hati saya, tetapi karena kesibukan dunia saya sering kali melupakannya. Ya benar karena kebodohan dan kerasnya hati saya sehingga saat ini untuk menangis saja susah. Padahal para nabi dan rasul dengan sahabat-sahabat mereka terdahulu merupakan manusia yang selalu menjadikan tangisan sebagai perhiasan dalam sholat-sholat mereka, do’a-do’a mereka dan dzikir-dzikir mereka.

Kalau perkara menangis sendiri banyak sekali faktor yang menyebabkannya. Ada yang kena PHK terus menangis , ada yang kena gusur terus menangis, ada yang hilang jabatan terus menangis, ada yang hilang harta terus menangis, ada yang tertipu terus menangis, ada yang terluka terus menangis, ada yang kehilangan nyawa terus menangis, ada juga yang terharu terus menangis , ada juga yang dapat harta benda terus menangis, dan lain sebagai. Singkatnya banyak hal yang menyebabkan seorang manusia bisa menangis apakah dia orang muslim atau orang kafir.

Namun diriwayatkan dalam sebuah hadits,”Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, dia tidak akan masuk neraka jahannam sebagaimana air susu tidak mungkin masuk kembali ke dalam puting susunya.”
Dalam hadits yang lain disebutkan,”Barang siapa menangis karena takut kepada Allah sehingga berlinangan air matanya dan air matanya membasahi tanah maka dia tidak akan diadzab pada hari kiamat.”

Sebuah mahfum hadits mengatakan bahwa api neraka jahannam diharaman kepada dua jenis mata :
1. Mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan
2.Mata yang berjaga pada malam hari untuk memelihara islam dan umatnya dari serangan orang-orang kafir.

Hadits lain juga menyebutkan bahwa api neraka jahannam diharamkan kepada mata yang pernah menangis karena takut kepada Allah, kepada mata yang berjaga pada malam hari di jalan Allah, mata yang tidak memandang sesuatu yang haram, dan kepada mata yang gugur di jalan Allah.

Maka bagi seorang muslim hendaknya sering menangis karena takut kepada Allah. Dibalik tangisan karena takut kepada Allah tersimpan berjuta hasanah kebaikan yang Allah sediakan kepada orang yang mengamalkannya. Allah SWT akan berikan rahmat-Nya, hati akan menjadi lembut dan muncul kasih sayang kepada umat. Sebaliknya orang yang tidak pernah menangis karena takut kepada Allah dihawatirkan hatinya keras dan Allah menjauhkan rahmat-Nya darinya. Dari Jarir r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barang siapa tidak diberi sifat lembut, berarti ia tidak diberi kebaikan.”(Hr. Muslim). Sahabat Rasulullah SAW yaitu Umar yang terkenal dengan “galak atau keras” dalam sholatnya pun sering sekali menangis bahkan ketika menjadi imam sholat pun menangis sehingga terdengar hingga ke belakang makmumnya, hal ini tentu saja karena rasa takut kepada Allah.

Begitu banyak kisah para nabi dan wali Allah apabila diceritakan tentang bagaimana mereka selalu menangis dalam kehidupan mereka hal ini seolah-olah tak bisa dipisahkan syarat untuk menjadi wali Allah adalah mudah dan sering menangis karena takut kepada Allah.
Dan tak bisa dipungkiri bagaimana kekasih Allah SWT, yaitu Rasulullah Muhammad SAW melewati malamnya dengan tangisan-tangisan sehingga dalam dada beliau seperti terdengar suara air yang bergolak karena mendidih. Bukan hanya takut kepada Allah, tetapi sekaligus mensyukuri nikmat yang Allah berikan, membaca dan merenungi atau memikirkan ayat-ayat Allah dan yang tak kalah penting adalah merisaukan umatnya.
Sebagaimana diterangkan oleh ayat Alqur’an ” Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin ” (Q.S At-Taubah: 128). Bahkan ketika orang yahudi meninggal tanpa kalimat iman, Rasulullah pun meneteskan air matanya membayangkan bagaimana nanti orang yahudi tersebut akan disiksa di neraka Jahannam yang selama-lamanya.
Begitu juga ketika beliau berda’wah ke tha’if dengan jalan kaki dengan penuh harapan dan semangat bahwa penduduk tha’if akan menerima islam, namun sesampai di tha’if Rasulullah SAW menerima perlakuan yang sangat kasar dan kejam, tidak hanya ditolak ajakan beliau sekaligus diejek, dihina dan diusir, tapi juga dilempari batu-batuan sehingga menyebabkan darah keluar dari tubuh beliau yang mulia, hingga menetes deras ke sandal beliau. Namun beliau berdo’a kepada Allah takut-takut Allah murka dengan keadaan beliau, tetapi Allah Maha Mengetahui maka Allah kirim malakat jibril beserta dua malaikat penjaga gunung yang diperintahkan oleh Allah untuk menaati perintah Rasulullah.
Bahkan malaikat itu pun menawarkan kalau mau gunung di sekitar tha’if akan dihimpitkan diantara mereka atau tanah mereka diangkat dan dibalikkan ke muka bumi. Namun Rasulullah yang berhati lembut dan kasih sayang yang paham dengan perkara akhirat tentang surga dan neraka hanya berdo’a apabila mereka tidak mau memeluk islam semoga keturunan mereka mau memeluk islam.

Alim ulama telah jelaskan kenapa diri kita susah menangis diantaranya adalah tertutupnya hati kita dari hidayah Allah SWT dengan kesalahan kita sendiri. Banyak dari kita tidak bisa menjaga pandangan mata kita, banyak pula yang mencaci maki saudara, mengghibahnya bahkan memfitnahnya, makanan yang masuk ke dalam perut pun tidak tahu apakah ini benar-benar dari sumber yang halal.
Kesombongan dari diri kita sendiri yang merasa sudah suci dan alim, bahkan mengatakan mereka yang banyak menangis kan memang banyak dosanya (na’udzu billah). Sehingga terlalu banyak noda hitam dalam hati kita yang sudah berkarat sehingga susah dibersihkan yang menyebabkan hati kita menjadi sekeras baja. Maka bagaimana kita hindarkan perbuatan kita dari yang demikian mari kita jaga pandangan kita, jaga lidah kita, jaga perut kita dan pikir kita, walaupun kita memang tak pernah berbuat dosa dan maksiat tetapi kita harus merasa banyak kekurangan dan dosa dalam diri kita sehingga Allah berikan sifat kelembutan dalam diri kita.

Salah satu cara yang paling berkesan agar kita menangis adalah bagaimana meniru perjuangan Rasulullah SAW, yaitu mengajak manusia ke jalan Allah dengan harta diri dan waktu kita dengan sungguh-sungguh, hingga hati ini merasa remuk ketika jumpa dengan manusia, dicaci, dihina, difitnah , dicurigai dan ditentang, sehingga malam hari kita adukan kepada Allah SWT dengan tetesan air mata dan do’a kita supaya Allah turunkan hidayah kepada orang yang menghina, mencaci, memfitnah, mencurigai dan menentang.

Ada cerita yang menarik dari seorang yang telah lama dalam usaha da’wah di Bandung yaitu abah Oto , ketika itu beliau sedang belajar da’wah selama 4 Bulan ke India , Pakistan dan Bangladesh. Ketika di Bangladesh beliau jumpa seorang penjual bumbu keliling (kalau di indonesia seperti bapak tukang sayur keliling) sedang niat untuk pergi keluar di jalan Allah ke negeri jauh maka penjual bumbu itu serahkan paspornya.
Abah Oto pun terkesan dengan keadaannya yang sederhana dengan mata pencaharian yang tidak seberapa, bapak ini niat untuk negeri jauh yang membutuhkan biaya yang banyak. Abah Oto menjadi kaget dan seolah tak percaya ketika dibuka paspornya ternyata sudah 40 negara dia kunjungi untuk keluar di jalan Allah. Abah Oto ini tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana mungkin seorang yang hanya tukang jual bumbu bisa seperti ini.
Abah Oto dengan rasa tak percaya menanyakan apa sebenarnya pekerjaannya, tukang bumbu itu pun jawab ya ini pekerjaan saya jualan bumbu. Abah Oto masih belum percaya dan terus menerus menanyakan pekerjaannya, tetapi tukang bumbu masih menjawab dengan jawaban yang sama. Akhirnya karena mungkin agak kesal dengan Abah Oto yang terus menanyakan pekerjaannya maka tukang bumbu itu pun berkata ,” wahai bapak memang saya ini tukang bumbu, tapi Allah bukan tukang bumbu, cukup bangun jam 2 pagi, 2 rakaat shalat dan tetes air mata dari 2 mata.” Dengan jawaban itu Abah Oto mendapatkan pelajaran yang sangat berharga sekali. Benar tidak ?

Maka kita niatkan lagi dan lagi belajar menangis dihadapan Allah SWT supaya Allah pilih diri kita dalam usaha da’wah Rasulullah dan Allah kirim kita, hantar kita ke seluruh alam dengan cara buat pengorbanan sebesar-besarnya hingga kita habis untuk agama Allah minimal luangkan waktu 4 bulan di jalan Allah. Insya Allah.
Selengkapnya...

Tuesday, November 3, 2009

BAYAN HIDAYAH

Kita mesti bersyukur kepada Allah SWT, yang telah mengenalkan usaha yang mulia yakni usaha anbiya as untuk mengenalkan iman kepada setiap manusia ke seluruh alam.Untuk memahami maksud kerja ini perlu pengorbanan. Maka korban seseorangyang terbiasa berbicara di mimbar adalah ketika ia diputus oleh amir untuk menjadi khidmat, melayani anggota jamaah yang lain, menyiapkan makanan-minuman, mencuci piring dan gelas.
Dan korban seorang yang tidak terbiasa berbicara di depan adalah ketika ia di putus untuk bayan. Semua pengorbanan ini insya Allah akan mendatangkan hidayah.Pernah suatu ketika seorang Perancis keturunan Arab bergabung dalam rombongan. Suatu saat ia diputuas untuk bayan. Orang-orang mengira bahwa ia adalah orang yang pintar dalam agama. Mulailah ia berbicara di mimbar.
Setelah selesai dengan pembukaan, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mukanya pucat-pasi. Air mata seakan-akan mau keluar dari matanya. Maka salah satu yang hadir dalam masjid tersebut segera angkat bicara, “Wahai Tuan-tuan. Lihatlah! Orang ini dilihat dari raut wajahnya masih keturunan nabi insya Allah. Ia sangatlah mencemaskan dan memikirkan kondisi kita yang hadir di sini, sehingga tidak ada satu patah katapun yang mampu keluar dari mulutnya. Beliau memikirkan bagaimana kita yang hadir ini dapat mengambil kerja dalam usaha ini. Maka Tuan-Tuan marilah kita semua yang hadir untuk turut serta keluar di jalan Allah seperti yang telah dilakukan Saudara kita.” Ajaib, seluruh jamaah yang hadir kemudian menyatakan diri untuk bergabung dan mengambil usaha ini saat itu juga.
Dalam kita keluar di jalan Allah ini mestilah memiliki maksud dan tujuan sbb :
1.Ishlah diri
2.Mengeluarkan jamaah cash
3.Menghidupkan maqami Da'wah yang diterima oleh Allah SWT,
sebagaimana shalat, adalah da'wah yang tertib mengikuti arahan masyaikh dan orang-orang yang telah ambil usaha ini lebih dahulu. Di Pakistan dan India selalu di serukan setiap kali orang keluar di jalan Allah untuk selalu berjalan di atas tertib.Ta'lim mestilah dilakukan dalam masa 4 (empat) jam dalam sehari semalam.Ta'lim pagi dan dilanjutkan ta'lim sesudah dhuhur atau menjelang ashar.Dalam ta'lim yang 4 (empat) jam tersebut mestilah ada halaqah qur'an selama 30 menit dan mudzakarah 6 (enam) sifat selama 1 (satu) jam.
Halaqah qur'an sesuai tertib adalah dibagi menurut banyaknya jumlah orang dalam jamaah yang telah bisa membaca qur'an secara tertil benar tajwid maupun makhrajnya. Apabila dalam jamaah hanya ada 1 (satu) orang yang bisa membaca dengan tartil dan benar tajwid maupun makhrajnya maka cukuplah dibentuk 1 (satu) halaqah saja. Bukan untuk semata-mata mengejar 10(sepuluh) surat terakhir. Di Pakistan dan juga India setiap orang yang keluar di jalan Allah taruhlah semasa 40 (empat puluh) hari, maka diharapkan di setiap harinya setiap anggota rombongan minimal mampu mengahafal 1 (satu) ayat dengan benar mahraj maupun tajwidnya. Sehingga diharapkan dalam masa 40 (empat puluh) hari setiap anggota jamaah yang keluar telah memiliki tambahan hafalan baru sebanyak 40 (empat puluh)ayat.
Sehingga apabila seseorang telah selesai keluar 40 (empat puluh)hari, ketika pulang kembali ke mahalah (masjid di mana ia tinggal), saat imam masjid berhalangan hadir, ia diharapkan mampu untuk menggantikannya sebagai imam. Metode ini telah dipraktekkan oleh seorang profesor yang mengajar di salah satu universitas di India sehingga dalam waktu 5 (lima)tahun beliau telah mampu menghafal keseluruhan al-Qur'an. Kemudian juga menjadi tugas amir adalah untuk memastikan anggotanya selama keluar 40(empa puluh) hari itu bisa minimal khatam qur'an 1 (satu) kali.
Perkara penting berikutnya dalam ta'lim adalah mudzakarah 6 (enam) sifat.Dalam mudzakarah ini haruslah diberikan kesempatan setiap anggota jamaahminimal 15 (lima belas) menit, sehingga dalam mudzakarah 6 (enam) sifatini maksimal pembentukan halaqahnya adalah 4 (empat) orang yang berartidalam 1 (satu) jam setiap orang dalam halaqah tersebut memiliki kesempatan15 (lima belas) menit. Sangatlah sayang apabila tertib ini tidak dijalankan sebagaimana mestinya sehingga telah banyak kita jumpai banyak karkun yang telah keluar panjang pun masih mencontek buku, belum bisa menghafal 6 (enam) sifat ini, padahal maksud keluar yakni ishlah diriadalah bagaimana ke-6 (enam) sifat tersebut ada pada diri kita.
Dan tangga pertama untuk mewujudkan 6 (enam) sifat tersebut adalah dengan menghafalnya.Pertolongan Allah bersama jamaah Setiap anggota jamaah mestilah selalu diberi tahu untuk senantiasa mengutamakan amal-amal ijtima'i (bersama) dibandingkan amal-amal infiradhi(individu). Amal ijtima'i ini akan mendatangkan pertolongan Allah. Ulama mengatakan bahwa seandainya dahulu Thariq bin Ziyad dan salah satu panglima perang lainnya tidak berpecah hati dan mengutamakan jamaah, maka hari ini akan kita lihat Eropa telah menjadi milik umat Islam. Kurang perhatian pada amal ijtima'i telah menghentikan nusrah (pertolongan AllahSWT, sehingga perkembangan Islam terhenti. Kemudian, bagaimana kita buat amalan bayan (ceramah penerangan maksud keluar di jalan Allah) kepada jamaah tempatan? Hal ini perlu dan mesti memperhatikan situasi dan kondisi tempatan.
Waktu bayan mestilah tidak terlalu panjang. Cukup 15-20 menit, terkecuali situasi tempatan memang memungkinkan. Dalam bayan mestilah ada tasykil. Akan tetapi tasykil yang bijak. Kita tawarkan kepada orang-orang tempatan untuk memnemani kita selama 3 (tiga) hari di masjid mereka. Atau bolehlah dengan kalimat,“Bapak-bapak kami serombongan ini keluar selama 40 (empat) puluh hari untuk ishlah diri untuk belajar mengikuti da'wah dan sunnah nabi serta sahabat, maka kami mengajak Bapak-Bapak untuk menyertai kami semasa ada waktu.” Jangan menyerukan di atas mimbar tasykil seperti dimarkas untuk keluar 4 (empat) bulan, 40 (empat puluh) hari.
Mereka yang belum paham akan lari dari jamaah dan akibatnya ketika masjid di datangi rombongan orang-orang enggan untuk masuk masjid. Takut tasykil. Kalau kita saja yang telah ambil usaha ini seringkali takut untuk ditasykil, apala lagi mereka-mereka yang belum pernah keluar sama sekali. Tasykil yang lebih efektif adalah ketika dilakukan secara infiradhi, face to face. Maka setiap anggota rombongan hendaknya mendekati orang per orang. Bicara dari hati ke hati dengan penuh perhatian dan kasih sayang.Orang yang telah tertasykil dan ia telah menyatakan keniatannya untuk bergabung dalam usaha ini mestilah ditindaklanjuti dengan ushuli(mendatangi untuk maksud mengajak) keluar sesuai waktu yang telah ia cadangkan.
Saat di Pakistan, pernah mendapatkan tasykilan di suatu masjid. Maka ketika telah sampai pada tanggal yang dimaksud,seorang Pakistan yang mendampingi jamaah telah membangunkan di saat dinihari untuk ushuli ke orang tersebut karena jarak masjid yang cukup jauh dan ini merupakan jamaah jalan kaki sehingga perlu waktu yang lama untuk sampai ke rumah orang tersebut. Ushuli merupakan wujud tanggung jawab kita setelah seseorang yang kita tasykil menyambut ajakan kita. Mestilah juga selalu ditekankan bahwa amalan ini bukanlah amal sesuatu golongan. Amalan ini adalah amalan masjid dan merupakan kerja setiap orang Islam. Maka setiap kali rombongan datang ke masjid mestilah mengusahakan agar amalan masjid Nabi bisa terlaksana di tempat tersebut. Yakni da'wah,ta'lim wa ta'alum, dzikir ibadah dan khidmat.
Maka di setiap masjid yang ditempati minimal kita usahakan hidup ta'lim kitabi fadhilah a'mal.Sehingga kesungguhan dan kesemangatan umat untuk mengamalkan agama wujud dalam masyarakat masjid tersebut.Bagaimana ketika kita pindah masjid? Ketika kita telah sampai ke masjidyang kita tuju hendaknya pertama-tama adalah kita dirikan shalat tahiyatulmasjid 2 (dua) rakaat dan diikuti shalat hajat 2 (dua) rakaat dengan permohonan sungguh-sungguh agar maksud dan tujuan kita yang 3 (tiga) yakni ishlah diri, pengeluaran rombongan dan maqami dapat tercapai. Maka selesai shalat kita mestilah segera bermusyawarah untuk berfikir bersama bagaimana maksud dan tujuan kita keluar tersebut tercapai.
Saat mendatangi orang-orang khusus tempatan seperti ta'mir, ketua RT maupun ulama mestilah kita berbicara dengan bijak. Saat bertemu ta'mir dan ketua RT mestilah kita sisipkan pembicaraan da'wah. Bolehlah saat berbicara dengan ketua RT kita sanjung beliau. Bahwa beliau telah banyak diberikan kemuliaan oleh Allah swt. Dan kita katakan apabila kemuliaan tersebut digunakan untuk membantu agama, insya Allah Allah akan berikan anugerah jabatan yang lebih tinggi. Mungkin menjadi lurah atau camat. Akan tetapi saat bertemu ulama berbicaralah dengan merendahkan diri .Katakanlah bahwa kita adalah santri-santri beliau yang siap mendengarkan nasihat dan arahan dari beliau. Janganlah berbicara da'wah pada beliau bahkan karghozari (laporan dan cerita usaha da'wah) pun jangan.Terkecuali beliau memang menanyakannya kepada kita. Jagalah adab-adab ini sehingga da'wah kita berhasil.
Keluarlah di jalan Allah dalam keadaan ringan maupun berat. Dalam keadaan longgar maupun sempit. Para sahabat telah memberikan banyak korban dijalan Allah. Seorang sahabat nabi yang akan melangsungkan pernikahan,ketika datang panggilan jihad telah memilih jihad. Dan, ia terbunuh dijalan Allah. Nabi saw melihat bahwa ruhnya telah menjadi rebutan parabidadari dan ketika salah satu bidadari tersingkap betisnya Rasulullah sawmemalingkan wajah beliau yang suci karena malu.
Seorang sahabat yang lain,Abu Ayyub al-Anshari ra telah meninggal di Konstantinopel saat perjalanan jihad dan da'wah. Mayat beliau di tanam di luar benteng musuh. Saat malam para penduduk dalam benteng telah melihat cahaya yang terang mengarah kelangit dari tempat tersebut. Mereka bertanya kepada pasukan muslim apakah yang telah mereka letakkan di luar beteng. Ketika mengetahui bahwa cahaya tersebut berasal dari kubur Abu Ayyub ra mereka pun berbondong-bondongmasuk Islam. Lihatlah bahkan orang yang bersungguh-sungguh berjuang dijalan Allah, matinya pun telah menyebarkan hidayah.
Maulana Yusuf rah.aketika beliau memberikan bayan di Lahore, tiba-tiba beliau terjatuh.Segera orang-orang menggotong beliau ke belakang. Tak lama setelah itu beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya kemudian dibawa dengan kereta api ke Nizhamuddin untuk dikuburkan. Ketika ibunda beliau melihat jenazahnya berkata,”Yusuf...Yusuf kamu tidak pernah beristirahat (dalam usaha da'wah ini). Beristirahatlah kamu sekarang dengan tenang...”.Begitulah, para pendahulu-pendahulu kita telah mati dalam da'wah. Maka mengapakah kita ketika sakit di saat keluar di jalan Allah ingin dipulangkan ke rumah? Tidakkah ada keinginan di hati kita untuk mati dijalan Allah? Janganlah mundur dari da'wah sejengkalpun.
Selengkapnya...

Thursday, September 24, 2009

Juru Dakwah

Sesungguhnya juru dakwah merupakan urat nadi kehidupan sosial,
bukan pengacau dan bukan pula penyebar teror.
Adakalanya seorang juru dakwah tampil sebagai tabib di tengah-tengah
masyarakat, atau menjadi pengamat sosial yang berinisiatif mengubah masyarakat
yang bobrok, jorok atau bodoh menjadi masyarakat yang terhormat.
Bahkan seorang juru dakwah bisa menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya,
dan sekaligus menjadi pendamping yang kreatif bagi si miskin.



Selengkapnya...

Sunday, September 13, 2009

LIMA FAKTOR KEBERHASILAN DA’WAH MENURUT PARA ULAMA


1. Da’wah harus disampaikan secara Ikhlash

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ
دِينُ الْقَيِّمَةِ.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [Al-Bayyinah : 5]

وَعَنْ أَمِيْرِ المْؤُمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ إ ْبنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّـيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ اْمرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أوْ اِمْرَأَةً يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ".

2. Seorang da’i hendaknya menyadari dan memahami betul pesan yang disampaikannya.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.


3. Seorang da’i hendaknya menyampaikan da’wahnya dengan cara yang bijaksana sesuai anjuran Al-Qur’an dan Hadits Nabi

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nakhl : 125]

4. Seorang da’i dalam menyampaikan da’wahnya hendaknya dilakukan secara terus menerus.

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا.

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). [Al-Jinn : 16]

5. Seorang da’i dalam menyampaikan da’wahnya hendaknya dilakukan dengan sabar.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. [Ali Imran : 142]


Selengkapnya...

Tuesday, August 18, 2009

Buru Teroris Jangan dari Jubah dan Janggut


Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam tidak terjebak pada kecurigaan yang berlebihan terhadap aktivitas dari kelompok Islam tertentu yang melakukan dakwah selagi ajaran yang disampaikan tidak bertentangan dengan Islam.

Pernyataan MUI ini berkaitan dengan 12 Orang warga Sulawesi, pengikut Jamaah Tabligh yang ditangkap polisi di Purbalingga, Banyumas, Jawa Tengah. Mereka diciduk karena dilaporkan warga ketika tengah berdakwah di Masjid Nurul Huda, Desa Sida Kangen, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga.

Menurut pengurus MUI KH Amidan, kecurigaan yang berlebihan akan mengakibatkan ketakutan umat dalam menjalankan perintah agama. Masyarakat menjadi takut mengikuti kegiatan dakwah, datang ke masjid atau menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren.

"Janganlah memperbesar kecurigaan yang berlebih. Kalau soal teroris itu urusan intelijen. Masyarakat memang harus waspada, tapi tidak gampang menuduh karena berbahaya nantinya," papar Amidan kepada okezone, Selasa (18/8/2009).

Dia mengungkapkan, Jamaah Tabligh memang melakukan syiar Islam dari satu masjid ke masjid lainnya. Mereka itikaf atau tinggal di dalam masjid dan berdakwah untuk memakmurkan rumah Allah tersebut.

"MUI melihat ibadahnya sama, ajarannya tak ada yang berbeda. Malah mereka lebih kusuk dalam beribadah. Mereka memperbanyak dzikir, puasa, dan tinggal di masjid untuk beberapa lama. Kemudian pindah ke masjid lainnya untuk salat subuh," terangnya.

Namun yang berbeda, sambung dia, mungkin dalam gaya penampilan seperti cara berpakaian, berjanggut, dan sebagainya. Hal itu karena pengaruh dari tradisi Jamaah Tabligh yang berkembang di Pakistan. "Jamaah Tabligh dari Pakistan menyebar sampai ke Malaysia dan Indonesia. Di Jakarta pengikutnya bisa ditemui di Kebon Jeruk, Jalan Hayam Wuruk," terang Amidan.

Sebab itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap aktivitas Jamaah Tabligh. Mereka ke tinggal di sebuah masjid tentunya sudah koordinasi dengan panitia masjid. "Jadi tergantung panitia masjidnya, mungkin menerima dengan persyartan seperti harus jaga kebersihan karena mereka hidup di masjid," imbuhnya.
Selengkapnya...