Mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala
Tuesday, January 20, 2009
Hukum Mengolok-olok orang yang teguh dalam syariat islam
Mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala
Diposting oleh Soero di 7:21 AM 0 komentar
Saturday, January 17, 2009
Umat Islam Bersatulah, Sambut Panggilan Gaza
“Duhai orang beriman, inginkah kalian Kutunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian” (Ash-Shaf: 10-11).
Rasulullah SAW berwasiat: “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan adalah dinar yang dibelanjakan untuk keluarganya, dinar yang dibelanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang diinfakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim).
Memang, Indonesia sendiri juga masih sangat butuh banyak perhatian. Tapi, di negeri ini jihad (qital=perang) belum dibutuhkan. Berbeda dengan Palestina, yang sangat membutuhkan dukungan jihad. Baik secara langsung berupa prajurit dan peralatan militer, maupun secara tak langsung berupa dana, logistik, dan medis.
Ketika Palestina dan kaum muslimin sekitarnya belum cukup mampu untuk melawan Israel, maka kewajiban jihad meluas ke belahan dunia lain. Termasuk Indonesia, sebagai negeri Muslim terbesar di dunia.
Alhamdulillah, masalah Palestina sejak awal selalu menjadi agenda Muslim Indonesia pada umumnya (mainstream). Dari persoalan inilah, ‘’lahir’’ LSM semacam KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), dan lain-lain. PKS (Partai Keadilan Sejahtera) pun bisa dikatakan turut dibidani oleh persoalan Palestina.
Kini, ormas-ormas Islam pun ber-fastabiqul khairat menyokong perjuangan Palestina. Baik lewat aksi demo, orasi, tulisan, diplomasi, maupun pengiriman tim bantuan kemanusiaan.
Diposting oleh Soero di 3:15 AM 0 komentar
Dari Abdullah bin Umar r.huma., bahwasanya Rasulullah saw. bila pulang dari peperangan, haji, atau umrah selalu mengucapkan takbir tiga kali setiap berjalan di atas tanah yang tinggi. Beliau juga berdoa,
"Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir, aaibuna taa ibuna 'aabiduna saajiduna lirabbina hamiduna shadaqallahu wahdahu wa nashara 'abdahu wa hazamal-ahzaba wahdahu
( Tiada tuhan [yang berhak disembah] selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya-lah seluruh kerajaan. Bagi-Nya pula segala pujian. Dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali, bertaubat, beribadah, bersujud, dan memuji tuhan kami.
Maha benar Allah dalam dalam segala janji-Nya. Dia mampu menolong hambaNya dan Dia mampu mengalahkan pasukan musuh sendirian." ( H.r. Abu Dawud )
Selengkapnya...
Diposting oleh Soero di 1:07 AM 0 komentar
Label: Kultum
Monday, January 12, 2009
Insya Allah, tanggal tepatnya dan tempat pelaksanaannya masih dimusyawarahkan diantara jumindar dan syuro serta tentunya keputusan akhir ada pada musyawarah para masyaikh.
Bila sesuai dengan rencana, maka Ijtima Indonesia tidak hanya akan dihadiri sekitar 200.000-an saja orang Indonesia (jumlah minimal para pekerja agama / dai / karkun) tetapi juga akan dihadiri saudara-saudara muslim dari hampir seluruh dunia. Apalagi telah diputuskan bahwa para masyaikh serta syuro dunia juga akan hadir dalam Ijtima Indonesia 2009 nanti.
Sebagai persiapan, maka selain kerja-kerja untuk menyiapkan rombongan-rombongan dakwah juga mengabarkan akan maksud dan pentingnya istima tersebut. Targetnya adalah bagaimana setiap ummat islam mengetahui akan adanya istima tersebut serta turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, baik secara langsung yaitu dengan menghadirinya atau tidak langsung melalui dorongan moril dan doanya bagi kesuksesan ijtima tersebut.
Diposting oleh Soero di 9:16 AM 0 komentar
Label: Takaza
Friday, January 9, 2009
KENAPA KITA MENDUKUNG PALESTINA

Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.
Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain। Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.
Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.
M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan इंडोनेशिया :
“॥, pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia। Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.
Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI। Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia , Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ॥"
Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949। Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.
Dukungan Mengalir Setelah Itu
Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk 'Panitia Pembela Indonesia '. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.
Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah। Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya , demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.
Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.
Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu। Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih –tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.
Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan:
"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya। mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain."
Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme- Islam di Asia dan Dunia Arab। “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa।”
Statement Tokoh dalam buku ini:
Dr. Moh. Hatta
”Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo। Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau।”
"Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur." (HR Bukhari)
Diposting oleh Soero di 4:32 AM 0 komentar